Diana (Bukan) Artis Sinetron #2

Diana masih bertahan di jalanan. Bising, macet, umpatan, dan polusi adalah hiburan sehari-hari. Sungguh lucu memang, orang lain mungkin akan menggangap hal itu sesuatu yang tak menyenangkan. Tapi bagi Diana, semua itu jadi hiburan.

Diana masih menahan mimpi-mimpinya, tapi bukan berarti mengabaikan. Ia simpan rapat mimpi-mimpi itu dalam kaleng Khong Guan. Bersama uang receh seratusan, tabungan masa depan. Siang, malam, dipeluknya sambil berdoa semoga suatu saat menjadi jutaan.

Baginya siang selalu terasa begitu lama, malam apalagi. Siang itu, Diana benar-benar merasa lelah. Ia berhenti menyanyi, lantas merapat di emperan pos polisi. Rupanya Diana tak kuat berjalan, capek, ia ingin duduk merebahkan segala lelah barang semenit saja. Tapi ia tak jenak istirahat, berulang kali mengamati sesuatu di seberang jalan sana. Penasaran. Ia terus memandang sesuatu itu. Setiap hari pemandangan yang sama mengusiknya. Setiap hari pun ia penasaran, menengok sesuatu itu ketika ia berangkat dan pulang menyanyi. Ya, setidaknya 3 kali dalam sehari, seperti minum obat.

Kali ini ia sungguh senang, bisa mengamati sesuatu itu lebih jenak dan lebih lama. Sebuah foto. Diana tertarik dengan foto di tiang listrik. Meskipun ia tak tahu itu gambar apa dan apa maksud tulisannya. Diana hanya bisa membatin, orang di foto itu cantik. Dengan make up tebal dan senyuman optimal. Sebelahnya bersanding seorang pria berkumis sedang menunjukkan dua jari tangannya. Telunjuk dan jari tengahnya dipamerkan, mirip iklan KB. Apakah mereka pasangan selebritis? Kenapa fotonya ada dimana-mana?

Ah, itu bukan hal yang penting bagi Diana. Gadis selugu itu tak akan berpikir tentang iklan KB. Ia pun tak mau tahu bahwa orang cantik dan pak kumis tadi sedang kampanye. “Coblos nomer dua!” Begitu kira-kira pesan yang hendak disampaikan. Sudahlah, itu tidak penting bagi Diana. Ia cuma penasaran dengan gambar tadi, meskipun aneh, tapi ia suka amati. Bukan pertama kali, ia sering bergumam sendiri kalau sedang melihat gambar-gambar di sepanjang jalan. Ada sebuah baliho di jalanan yang sama, tempat ia bersandar saat ini. Seorang perempuan terpampang dengan busana elegan dan dandanan yang menawan. Disampingnya tergambar sabun mandi. Seolah mengandung makna, “Kalau pakai sabun mandi merk itu pasti bisa cantik kayak mbak-mbak ini”.

Tak mau berhenti dengan pikirannya, Diana yang cerdas kembali mengingat gambar lain yang pernah ia lihat. Kali ini memorinya membawa ke sebuah poster yang tertempel di samping mural tembok jembatan. Masih tentang perempuan cantik. Tapi untuk yang ini berbeda. Dilihatnya gambar perempuan, dengan dandanan menor lengkap dengan rok mini. Di sampingnya ada kendaraan mewah, kinclong, dan sepertinya harganya mahal. Diana kagum melihat gambar itu. Mbaknya cantik, katanya.

Ia hanya senang melihat gambar-gambar itu. Tak akan ia bertanya macam-macam, kenapa banyak gambar perempuan cantik dipajang di jalanan. Tak banyak yang ia pahami, bahwa itu hanya permainan promosi sebuah perusahaan. Jurus merayu orang agar mau membeli dan menggunakan produk yang terpampang. Tapi itu bukan hal penting bagi Diana. Sekali lagi, ia hanya suka mengamati gambar-gambar itu.

Ya itulah Diana, yang hanya berpikir tentang hari itu juga. Hari besok itu masih misteri, untuk apa dipikirkan. Yang penting bisa makan hari ini. Yang penting bisa tertawa hari ini. Yang penting bisa tidur hari ini. Dan ia pun akhirnya tertidur pulas di emperan pos polisi. Kembali menjelajahi mimpi-mimpi yang tak pernah terungkap. Yang tersimpan rapat dalam memori dan kaleng Khong Guan.

Ya, itulah Diana, berbeda dengan saya. Saya salut dan terinspirasi dengan gadis semacam Diana. Gak neko-neko. Sederhana. Semangatnya membara untuk sekedar hidup. Jalanan akan menjadi Kawah Candradimuka, baginya dan bagi anak-anak senasib dengannya. Tapi, saya sedih, karena Diana adalah bagian dari anak-anak Indonesia. Kelompok minoritas yang tak seberuntung anak-anak lainnya. Tapi saya kagum, karena Diana selalu menjalani hari dengan ceria. Itulah yang selalu menjadi inspirasi bagi saya.
Image

Sumber gambar: http://sanggiaputri.blogspot.com/2012/04/it-gets-better.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s