Muda, Beda, Banyak Maunya

DSCF0135
Ada yang bilang, muda itu berbeda. Muda itu banyak maunya. Dan, muda itu bisa jadi berbahaya. Jadi, muda itu, beda, banyak maunya, dan berbahaya. Loh, kok bisa begitu ya?

But well, ini topic yang menarik dan cukup sensasional untuk membuka satu kisah berikut ini. Pengalaman ketika saya dan Ning Rufed blusukan ke sebuah komunitas di kampung Cokrokusuman, yang letaknya tak jauh dari bantaran kali code.

Sore itu, saya diminta menjadi fasilitator diskusi komunitas remaja. Langsung semangat. Kebetulan temanya tentang “konsep diri remaja”. Sungguh suatu kesempatan yang baik.

Sore yang agak mendung tidak menyurutkan anak-anak Cokro buat belajar bersama. Meski beberapa harus menunggu sebagian lainnya sekitar hampir 1 jam, tapi mereka tetap antusias mengikuti serial diskusi yang kira-kira sudah episode kesekian kalinya itu. Sore itu sebagian peserta masih mengikuti kegiatan pramuka di sekolahnya. Ada yang masih di rumah membantu orang tua. Ada yang mungkin saja, saya pikir, masih menunggu teman untuk berangkat. Ya, akhirnya meski tak lengkap seperti biasanya, mereka datang dengan semangat empat lima. Semangat berbagi dan semangat belajar.

Diskusi kami buka dengan mengidentifikasi tentang apa-apa yang mereka rasakan, pikirkan, keluhkan, dan permasalahkan terkait identitasnya sebagai remaja. Remaja katanya bukan anak-anak lagi, tapi juga belum dewasa. Menurut mereka banyak masalah yang berkecamuk dalam diri khususnya yang menyadari masa remajanya.

Katanya, masa remaja itu masa-masa galau, labil, masa-masa jatuh cinta tapi juga bisa kejebak dengan pergaulan beresiko. Hubungan tidak sehat, janji gombal, dan pemberi harapan palsu menjadi serentetan cerita yang terlontar. Mereka sering menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi atau istilah kerennya backstreet jika berelasi dengan lawan jenis.

Ketika saya tanya, kenapa harus pakai backstreet segala, sebagian merasa tidak nyaman jika orang tua mereka mengetahui anak-anaknya yang masih SMP/SMA punya pacar. Mereka takut dan malu bercerita pada orang tua kalau mereka sudah mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis. Mereka takut dilarang-larang. Mereka merasa tidak nyaman jika orang tua ingin tau aktivitas mereka dengan si pacar. Punya pacar, menjadi satu hal yang bagi mereka malah menimbulkan masalah.

Ada lagi yang mengatakan punya masalah dengan orang tua. Terus masalah dengan teman. Ada yang selalu ingin diperhatikan. Ada yang merasa tidak bisa membuat keputusan sendiri. Intinya kompleks masalah yang diutarakan. Fasilitator jadi berkerut dahi, manggut-manggut, tapi geleng-geleng juga mendengar pengakuan mereka. Ya, akhirnya bahasan ini mengalir pada fase mengidentifikasi kebutuhan remaja. Bagi saya ini satu hal penting, saya ingin menggali lebih jauh lagi. Sebenarnya apa sich yang dibutuhkan para remaja ini. Apakah mereka sudah merasa puas dengan apa yang mereka miliki? kebutuhan materi, perhatian, kasih sayang, dan adanya keberadaan orang tua. Adakah diantara mereka yang lebih nyaman berkeluh kesah kepada sesamanya daripada kepada orang tua? Sebenarnya adakah kebutuhan mereka yang belum didapatkan?

Well, sesi selanjutnya saya mengajak peserta untuk mengisi peta kebutuhan remaja. Bukan peta sembarang peta, tapi ini adalah pertautan empat kuadran kebutuhan : kebutuhan dasar, kebutuhan materi, kebutuhan emosional, dan kebutuhan untuk pengembangan diri. Setiap orang mesti memiliki empat jenis kebutuhan ini. Namun yang perlu diingat sifatnya memang relatif dan subjektif.

Saya dan Ning Rufed memberikan empat kertas metaplen berbeda warna ke masing-masing peserta. Untuk kemudian mereka isikan masing-masing kertas dengan jenis kebutuhan di tiap kuadran. Kertas 1 dituliskan ttg kebutuhan dasar apakah yang menurut mereka paling penting. Kertas 2 kebutuhan material apakah yang menurut mereka paling penting. Kertas 3 tentang kebutuhan emosional dalam bentuk apa yang menurut mereka paling penting. Kertas 4 tentang kebutuhan untuk pengembangan diri, apa yang paling mereka butuhkan untuk mengembangkan diri dan potensi diri mereka.

Setelah semua peserta selesai menuliskannya, ditempel lah kertas-kertas itu ke masing-masing kuadran sesuai dengan identifikasinya. Beragam. Mengejutkan. Memunculkan lebih banyak pertanyaan untuk digali. Begitulah komentar yang muncul di benak saya ketika mengamati coretan-coretan yang secara sadar atau tidak adalah “kebutuhan” yang sebagiannya menjadi masalah para remaja.

Salah satu peserta, bahkan ada yang mengisi keempat kuadran pada papan kebutuhan tersebut dengan 1 hal yang sama. Kebutuhan dasar diisi “UANG”. Terus kebutuhan material diisi “UANG”. Kebutuhan emosional juga diisi “UANG”. Kebutuhan pengembangan diri, lagi-lagi, diisi “UANG”.

Kami mulai mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Banyak hal lucu, ganjal, dan sensasional yang ditulis mereka. Ada yang mengisi keempat kuadran dengan “UANG”. Saya bertanya,”Kenapa ada diantara kalian yang menuliskan uang sebagai kebutuhan yang paling penting di empat kuadran?” Awalnya mereka malu-malu dan hanya saling menunjuk satu sama lain agar orang yang menulis mau mengaku. Ya, akhirnya ada satu peserta yang mencoba berargumen. Saya menduga dia tersangka penulisnya.

“Kan kita hidup ini apa-apa sekarang pakai uang mbak. Kalau gak ada uang gak bisa hidup. Mau makan pakai uang, mau sekolah pakai uang, mau pintar buat ngembangin diri juga musti pakai uang,” katanya. “Hmm…kebutuhan emosional kenapa juga diisi uang?” tanyaku penasaran. “Iya mbak. Kalau lagi stres atau sampai depresi gara-gara masalah, mau berobat atau nyari hiburan juga perlu uang tho mbak,” tambahnya gak mau kalah.

Banyak yang menyampaikan bahwa uang terkadang menjadi kendala mereka untuk berkembang. Sebaliknya, di sisi lain dunia, justru banyak remaja yang meskipun di tengah keterbatasan dan kekurangan, mereka tetap berupaya keras mencari makan. Bahkan ada pula yang usianya masih tergolong anak harus menjadi kuli pabrik, pengamen, pengemis, dan banyak juga mereka yang menikmati hidup di jalanan. Hmmm *saya manggut-manggut dan penasaran ingin menggali lagi pendapat lainnya.

Ada yang menuliskan “ORANG TUA” sebagai kebutuhan dasar. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata anak yang menuliskannya merasa kurang mendapat perhatian orang tua. Orang tua tak banyak hadir dalam setiap masalahnya. Bisa jadi orang tuanya yang memang tidak peduli atau bahkan si anak sendiri yang tertutup dengan orang tua. Takut dan perasaan tidak nyaman, sering menjadi sederet alasan mengapa ada diantara mereka yang merasa jauh dari orang tuanya. Padahal mereka butuh. Bisa jadi si anak ini adalah korban kesibukan orang tua.

Saya berpikir sejenak dalam rasa penasaran yang menggelitik pikiran. Ada hal lain yang juga penting dilihat, dari pihak si remaja sendiri. Apa ini yang sering dipostulatkan para peneliti dalam tulisan-tulisannya. Tulisan mereka banyak menyoroti masalah perkembangan remaja. Katanya dalam masa perkembangan, remaja yang hidupnya terbiasa bergantung pada orang tua atau keluarga mencoba untuk sedikit demi sedikit terlepas dari ketergantungan itu. Mereka lantas asyik mencari kelompok sebaya yang menaungi mereka dan yang mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Kebutuhan akan pengakuan, kebutuhan akan perhatian, kasih sayang, kebutuhan akan kepercayaan, sebagian remaja mungkin saja mendapatkannya dari teman sebaya. Egoisme yang dibalut dengan rasa percaya diri dan jiwa-jiwa berontak mulai muncul. Mereka kemudian merasa ingin merdeka dengan keputusan mereka sendiri. Remaja ingin diberi kesempatan lebih untuk memilih apa yang mereka suka dan inginkan. Bukan mereka menjadi ‘apa yang diinginkan orang tuanya atau orang lain’. Mereka ingin diberi kepercayaan dan dengan begitu mencoba meyakinkan orang tua bahwa remaja juga bisa bertanggung jawab dengan pilihannya.

Tentu saja, dalam diskusi 2 jam itu banyak curhatan. Banyak pengungkapan asa. Akhirnya kami mengajak para remaja untuk merangkai mimpi-mimpi mereka. Dari pergulatan cerita yang bervariasi di atas, kami penasaran sebenarnya apa yang dimimpikan para remaja tentang sosok mereka di masa depan. Apa yang sudah mereka lakukan untuk mencapai cita-cita mereka? Bagaimana mereka mengharmoniskan masalah-masalah yang ada agar tidak mengganggu proses pencapaian cita-cita?

Bukan dengan menggurui. Kami hanya mencoba untuk merefleksikan dan share pengalaman masing-masing. Pengalaman ketika kami pernah memiliki asa dan mimpi yang begitu besar di masa lalu. Yang sudah tercapai saat ini. Dan perasaan serta proses bagaimana terus merangkai cita-cita dan asa kami di masa depan.

Saya senang, ketika masih banyak dari mereka yang meyakini bahwa dua sejoli “usaha dan doa” menjadi bagian penting pencapaian cita-cita. Selain itu, percaya diri dan tak perlu hiraukan cemoohan orang lain yang meremehkan kemampuan diri kita. Karena yang hanya perlu kita dengarkan adalah doa dari orang tua. Dengan percaya diri dan tanpa ragu mereka mengungkap asa, mereka menuliskan dan menggambarkan apa yang menjadi impian masing-masing dalam bentuk papan impian. Banyak impian yang dituliskan seperti “ingin menjadi pemain music, menjadi model, duta Indonesia di luar negeri, pemain basket yang terkenal, keliling dunia dan Indonesia dengan drama musical yang dikelola oleh komunitasnya”. Dengan senang hati kami berbagi. Menggerakkan remaja untuk menempelkan papan impian itu di kamar masing-masing. Yang akan terbaca ketika mereka hendak belajar. Yang akan mengingatkan kembali pada jalan panjang sebelum tidur. Yang akan menggugah semangat di saat mereka terbangun. Dan yang akan menjadi bukti ketika harapan itu kelak benar-benar jadi kenyataan.

Dan untuk menutup sharing ini, saya ingin mengutip dua quote yang begitu menginspirasi saya dari seseorang. Yang intinya :

“Kita bisa menjadi ‘keren’ dengan cara kita sendiri”

“Meski modal materi terbatas, tapi dengan modal sosial yang kuat orang juga bisa berhasil”

Yogyakarta, 15 Maret 2013

Ketika mentari senja hendak berlari dari cakrawala komplek jatimulyo Indah

Defirentia One

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s