Diana (Bukan) Artis Sinetron

anak_jalanan_100530203226Diana..Begitulah ia dipanggil. Diana, seorang gadis yang terlahir dari rahim buruh tani. Sejak kecil ia diberi asupan bubur tim. Dibuat dari tumbukan padi yang tak pernah panen ketika masanya. Diana kecil sangat lincah. Ia sering bermain-main di kerumunan orang yang antri sembako. Mencari sebutir beras untuk makan hari ini. Sangking lincahnya, Diana kecil menari-nari dalam rintihan laparnya. Tapi ia cuek, Diana tak pernah merasakan itu sebagai rintihan. Baginya itu adalah panggilan yang seharusnya didengar orang-orang di sekitarnya.

Diana…Diana…
Gadis kecil nan lucu mengusap peluh di atas hamparan padi. Tapi bukan miliknya, bukan milik bapaknya, apalagi ibunya. Pukul 06.00 ia bersiap ke sawah dengan caping bambu dan karung goni yang lusuh. Dengan ceria ia berjingkrak meskipun berkali-kali dihina oleh pagi. Begitulah ia memberitahu ibunya. Pagi selalu saja tak mau mengerti, tentangnya, tentang capingnya, dan tentang semangatnya. Malahan pagi mengolok-olok Diana yang tak pernah pergi sekolah apalagi mengaji. Sekolah dan mengaji, setiap hari dilakukannya di sawah. Belajar membaca langit dan menghitung butiran mimpi. Sambil mentartilkan nyanyian ‘kodok ngorek’ yang dihapalnya sejak berusia tiga tahun.

Diana, gadis kecil anak buruh tani yang punya sejuta mimpi. Menginjak remaja, Diana suka berbaris di halte, antri masuk bis. Berdesak-desakan untuk mengais recehan. Sambil nyanyi sesekali mengusap peluh di dahi. Diana kini menjadi anak kota yang berani. Ia tak pernah takut ngamen di bis. Apa sich yang ia takutkan? sejak kecil ia berteman dengan kekurangan dan kelaparan. Apa sich yang ia keluhkan? sejak kecil sudah hidup dengan rintihan asma, karung goni, dan antrian sembako.

Untungnya, Diana pandai menyanyi. Menyanyi dari bis ke bis dengan lagu ciptaan sendiri.

Gema adzan subuh kami masih tertidur
Saat dhuhur, ashar, kami sibuk bekerja
Magrib, isya’, ngamen di jalanan
Tuhan, pantaskah Surga untuk-Ku

(ket : diadopsi dari lagu pengamen jalanan bis Jogja-Solo)

Ya, begitulah Diana selalu berteriak-teriak. Mengungkap gundah yang selama ini diumpatnya. Bukan kepada ibu, bapak, atau Tuhannya. Tapi gundah yang ia sindirkan kepada orang sekitar.
Diana remaja yang hebat. Melalui skenario hidupnya dalam buai jalanan. Ia bukannya lupa kampung halaman. Tapi nekat mencari sebongkah berkat yang tak didapatnya di desa.

Diana tak seperti remaja perkotaan yang gila cinta. Yang kerjanya hanya menghabiskan waktu mengirimkan petisi-petisi gombal buat sang pacar. Entah dari mana mereka belajar. Tentunya bukan dari laptop guru atau dari kalkulator ayahnya. Apalagi dari I-pad ibunya yang sudah penuh dengan jadwal arisan dan belanja. Percaya atau tidak, mereka belajar nge-gombal dari tontonan televisi bahkan dari google. Karena disana sudah tersedia formula-formula canggih, resep gaul remaja masa kini.
Diana hanya mengelus dada. Ia tak ada waktu dan takdir untuk mencicip kehidupan seperti itu. Ia lebih suka menyanyi untuk menjalani hidup semampunya. Sehari makan nasi sekali saja sudah membuatnya sumringah. Jadi, tak sempat ia memikirkan untuk iri hati pada remaja lain. Yang suka nge-mal, suka jalan-jalan, menenteng gadget, dan hoby akses internet.
Ya, begitulah Diana yang sederhana. Diana yang tak pernah mengubur mimpi-mimpinya.

#Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s