Anak-anak Punya Cerita

Image

Saya masih ingat. Kurang lebih setahun lalu (21 Desember 2011),ketika pertama kali saya meliput kegiatan Gelar Karya Anak dan Pameran Kreasi Anak Jalanan yang diadakan Konsorsium Rehabilitasi dan Reintegrasi Anak Jalanan dan Perempuan. Konsorsium ini terdiri dari LSM Rifka Annisa, Humana dan LPA. Di situlah, semua yang tampak di mata benar-benar membuat saya terbelalak dan kagum. Pertama kalinya saya melihat begitu semangatnya komunitas anak jalanan di Yogyakarta menghadirkan pagelaran seni maupun produk-produk hasil kreativitas mereka. Semakin membuat saya salut ketika salah satu anak jalanan yang saya wawancarai mencurhatkan uneg-unegnya. Ia bilang senang sekali bisa terlibat aktif dalam kegiatan ini, ikut mengonsep serta aktif dalam diskusi dan pagelaran seni.

Saya teringat tentang obrolan diskusi meja makan yang sering saya lakukan dengan teman-teman di kantor. Kisah demi kisah tentang kondisi anak sering menjadi asupan dalam obrolan kami. Ada satu kisah tentang segerombolan anak yang menyerbu warnet-warnet jika hari libur tiba. Mereka yang katanya mencari hiburan ini masuk ke bilik-bilik warnet dengan 3-4 orang per bilik. Entah laman apa yang diakses sampai membuat mereka ketawa cekikikan dan memberikan komentar-komentar jorok hingga terdengar oleh penghuni warnet lain.

Sungguh miris mendengar cerita tersebut. Hanya sepenggal cerita dari potret buram anak-anak bangsa. Merekalah yang terlahir dari tidak berfungsinya sistem keluarga dan kegagalan sistem negara. Mereka yang mencoba bertahan hidup meski lingkungan tak ramah buat mereka. Mereka yang hingga pukul sebelas malam masih berkeliaran di sudut-sudut lampu merah Yogyakarta dan mungkin di banyak kota lainnya. Anak-anak yang justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang dalam bayangan saya sengaja mempekerjakan pengemis dan gelandangan untuk meminta-minta di perempatan lampu merah.

Ya, saya katakan ini sebagai bentuk kegagalan karena secara jelas telah dipaparkan bagaimana janji-janji kosong perlindungan anak terlantar yang termaktub dalam lembaran suci konstitusi, yang katanya amanah dari rakyat. Janji yang ditorehkan para pemimpin bangsa dalam Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Yang menjamin bahwa setiap anak berhak untuk tumbuh kembang dan bebas dari segala perlakuan diskriminasi dan kekerasan. Namun, fakta saat ini masih jauh dari harapan. Jumlah anak terlantar di jalanan saya kira semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, kondisinya pun semakin memprihatinkan dengan berbagai kekerasan dan diskriminasi yang mereka dapatkan dari masyarakat.

Anak-anak selalu punya cerita, cerita yang tak bisa ditebak bahkan dipahami orang dewasa. Orang dewasa yang kadang pula tak mau tahu akan hak-hak mereka. Atau justru mengeksploitasinya.

Saya sedih mendengar berita akhir-akhir ini. Seorang anak yang masih belia meninggal setelah mengalami kekerasan seksual dari ayahnya. Mengalami perkosaan berulang kali oleh sang ayah, namun ia membisu demi harmoni. Seorang anak yang tak mau ayahnya dipidana. Seorang anak yang atas kasih sayang yang berjubel dengan ketakutannya, menutup-tutupi kejahatan sang ayah. Hingga ajal memenggal ruh dari jasad, barulah terungkap siapa pemerkosanya. Yang tak lain ialah ayah, yang seharusnya melindunginya.

Saya masih belum selesai dengan cerita anak Indonesia. Sungguh kontras, di tengah kisah anak-anak yang terlantar, anak-anak yang menjadi korban incest dan kekerasan seksual, anak-anak yang tidak bisa sekolah, bayi-bayi malang yang diaborsi, maupun anak-anak korban kegagalan sistem negara, ada kisah lain tentang sekumpulan anak-anak yang katakanlah mungkin lebih beruntung daripada mereka.

Ya, merekalah anak-anak yang lahir dari kantong-kantong kelas menengah yang dimanjakan dengan kecukupan hidup dan piranti modernitas. Anak-anak yang hampir setiap weekend berjubel memenuhi mal-mal dan game center, yang difasilitasi dengan gadget-gadget terkini oleh orang tua mereka. Mereka memang terlihat eksklusif bahkan hingga saya pun tak mampu menebak apakah ada diantara mereka yang sesekali melirik pada nasib jutaan anak lain yang tidak seberuntung mereka.

Saya mencoba untuk sedikit demi sedikit membukukan cerita tentang anak-anak bangsa. Kisah inspiratif maupun kisah-kisah buram yang perlu dibongkar kembali. Untuk kemudian diwacanakan sebagai bahan pertimbangan. Ya, anak-anak selalu punya cerita. Cerita dari kerajaan mereka yang tak mampu ditebak oleh orang dewasa.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s