Ini Lho.. Ada “Istri Teroris” Curhat di Rifka Annisa #1


Saya masih penasaran dengan sosok perempuan ini. Sosok tak bernama dan tak banyak diungkap. Namun sekali diungkap bisa jadi muncul kontroversi. Kontroversi dari publik dan mungkin dari pemerannya sendiri. Harus saya akui, sosok yang satu ini menarik bagi saya pribadi dari segi penokohan maupun ide yang ingin disampaikan. Sosok seorang perempuan dari keluarga fundamentalis radikal yang mengalami konflik batin dengan apa yang dihadapinya. Tentang posisinya sebagai istri dan sebagai seorang umi (ibu). Lantaran suaminya melakukan aksi terorisme atas nama jihad. Agak sensitive, tapi ini penting untuk membongkar konstruksi yang ada selama ini. Membongkar maskulinitas terorisme berbungkus interpretasi akan ajaran agama.

Mulanya agak bingung juga mengapa Pak Sutradara mengajukan sosok istri teroris dalam “Tonil Laki-laki” yang dipentaskan Rifka Annisa tanggal 25 dan 26 April 2012. Sangat ekstrim. Padahal mungkin ada pula kehidupan warga biasa yang juga menemui kontroversi seperti ini. Soal keyakinan nilai dan eksklusivitas dalam rumah tangga tertentu. Tapi tak apa. Bagi saya ini jauh lebih menarik. Sebab, selain mendiskusikan istri teroris, saya harus pula memerankannya. Benar-benar teater yang partisipatoris. Ide dari kami sendiri, oleh kami, dan untuk kami perankan sendiri. Indonesia banget kan.

Memang menjadi sesuatu tantangan yang seumur-umur baru kali ini saya alami. Saya masih ingat ketika pertama kali berdiskusi tentang penokohan istri teroris. Membangun karakter yang dikonversikan dalam dialog dan monolog ini ternyata tidak semudah menulis status di FB. Karena sebelumnya harus riset terlebih dahulu. Soal Tonil laki-laki, ya, sebenarnya tidak banyak yang saya ketahui soal Tonil ini. Tapi entah apa itu, saya tertarik untuk terlibat dalam prosesnya. Menyumbangkan gagasan sambil menggali pandangan masing-masing orang.

Menarik ketika pertama kali Pak Sutradara, Mas Ramses, mengajak diskusi tentang isu apa yang akan kita tampilkan mengenai sosok teroris ini. Jujur saja kami harus bekerja keras untuk mencari inspirasi dialognya. Selain mungkin karena ini pengalaman baru bagi saya juga karena tak ada gambaran sama sekali bagaimana relasi antara suami-istri dari keluarga fundamentalis radikal.

Secara sederhana, adegan keluarga teroris ini hanya ingin menampilkan bagaimana perasaan dan sikap seorang istri ketika menghadapi kenyataan bahwa suaminya adalah teroris dan di vonis mati. Agak berdebat memang dalam riset dan diskusi yang dilakukan. Tentang kritik seorang perempuan terhadap fundamentalisme dan radikalisme maupun tentang pengungkapan insight tokoh istri teroris.

Kritik yang dibangun oleh karakter si Nyonya teroris sebenarnya sederhana. Ia memikirkan nasib anak-anaknya. Bukan persoalan melawan suami atau melawan ajaran agama, atau pun memberontak dari tugas istri. Hanya saja yang menarik dari tokoh istri teroris ini bahwa pengembangan dialog sepertinya merupakan respon dari karakter yang tergambar dalam monolog teroris. Kurang lebih seperti ini, “Perempuan itu harus di rumah. Melayani suami dan mengurus anak-anak. Itu bentuk jihad mereka…..” Cukup berat memang menentukan kira-kira apa yang dipikirkan seorang istri yang selama ini tidak tau bahwa suaminya ternyata seorang teroris. Suami-suami mereka yang menjadi teroris karena ambisi surga dan 72 bidadari.

Mungkin selama ini banyak masyarakat beranggapan bahwa istri dari keluarga fundamentalis radikal justru bangga ketika menemui suaminya berjihad. Atau meninggal atas nama jihad karena mereka yakin surga sebagai jaminannya. Ya, itu yang doktrinnnya berhasil seratus persen. Tapi niat saya mengambil posisi itu urung. Karena bagi saya ada hal lain yang menarik. Bahwa ada satu mini narasi tentang istri teroris yang tak banyak terungkap. Mini narasi ini saya temui dalam tulisan sebuah jurnal karya M. Endy Saputro (Jurnal Sosial Politik Fisipol UGM, Vol.14 No.2 November 2010, pp. 211-225).

Tentang kisah Paridah, istri Mukhlas, salah satu teroris bom Bali. Saya kaget juga ternyata anggapan saya terhadap istri teroris tidak semuanya benar. Ada juga yang menarik dengan apa yang saya tekuni selama ini. Ternyata ada dari mereka yang memiliki kesadaran kritis meskipun tak cukup  beruntung. Ya, kesadaran sebagai seorang perempuan, kesadaran sebagai seorang istri dan kesadaran sebagai seorang muslim yang berhak hidup normal layaknya manusia lain.  

Menurut penuturan Paridah, suaminya Mukhlas adalah mantan pejuang Afganistan yang menguasai perihal senjata dan agama. Setelah menikah, si suami melakukan indoktrinasi yang begitu ketat pada istrinya. Sayangnya, ia tidak boleh banyak tahu tentang apa yang dilakukan suaminya. Sebab menurut suaminya tugas istri ya melayani suami dan mentransferkan ajaran suaminya kepada anak-anaknya. Tapi sungguh malang si Paridah, sejak mengetahui Mukhlas dipenjara ia menghadapi banyak masalah. Soal rumah tangga, ekonomi, dan sosial. Ini yang memberikan banyak inspirasi bagi saya untuk membangun dialog dan monolog Nyonya teroris.

Mari cermati petikan monolog Nyonya teroris dalam Tonil berikut ini :
Saya sedih. Saya kecewa dengan suami saya. Saya tidak menyangka ternyata dia teroris.”

“Apa Anda bisa bayangkan bagaimana suami saya mendoktrin saya tentang agama, tentang ibadah tentang jihad, tentang surga dan tentang tugas istri. Tugas istri katanya  ialah melayani suami dan mengurus anak-anak. Tugas istri juga mendidik anak-anak menjadi mujahid yang kelak akan berperang atas nama agamanya.”

“Tapi saya tidak sanggup dengan semua ini. Saya dan anak-anak dijauhi tetangga, dibenci keluarga. Tiap hari berbulan-bulan diburu oleh Densus 88.”

Kalimatnya agak klise dan unik memang. Tapi intinya hanya ingin menyampaikan bahwa ada suatu perasaan grundel dan protes oleh sang istri. Sebab ia sadar begitu berat seorang istri dan anak-anak yang harus menanggung resiko atas aksi terorisme yang dilakukan suaminya.

Saya akui, saya tergolong pemula di dunia seni atau pun aktivisme ini. Terutama yang bergerak dalam isu penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Saya tak banyak tahu tentang apa-apa yang biasanya jadi masalah dalam relasi suami dan istri. Hanya berbekal insting saja sebagai perempuan dan sedikit refleksi dari apa yang saya amati di kehidupan sehari-hari. Ya, bahkan mungkin tidak naïf juga kalau saya harus banyak riset dari sinetron atau film yang pernah saya tonton untuk menjalankan penokohan ini.

Intinya, sebuah tantangan baru pula ketika aktivis harus menyampaikan pesan kampanye anti kekerasan via teater. Saya, yang notabene baru dua kali ini bermain teater di depan publik, agak harus bekerja keras dalam memaknai segala proses dalam tonil ini. Mengapa proses? Ya kritikan dan masukan selama proses ini membuka pengetahuan baru. Terlepas dari substansi, Tonil ini benar-benar memberikan pengalaman baru. Bahkan saya baru tau juga ternyata cara bernapas pun bisa dianalisis untuk menunjukkan karakter.

Dengan memahami dan memerankan naskah tersebut, naskah yang sebagian besar saya buat sendiri ini, membuat seolah-olah ikut merasakan bagaimana menjadi istri teroris. Bagaimana menjadi perempuan dalam rumah tangga fundamentalis radikal. Bagaimana menjadi umi bagi anak-anak yang bapaknya divonis hukuman mati. Konflik batin dan pikiran. Masih banyak hal yang belum bisa saya ungkapkan. Dalam posisi saya sebagai perempuan dan sebagai muslim.

Akhirnya tokoh tak bernama ini menimbulkan kesan tak terungkap pula. Saya pribadi tahu dan tentunya berpikir tentang apa yang dilakoni selama proses. Tapi secara jujur masih banyak hal tak terungkap dari penceritaan Nyonya teroris. Pembauran posisi sebagai nyonya teroris dan penilaian pribadi saya sebagai aktivis telah membentuk penokohan ini. Saya berasa benar-benar berdialog dengan istri teroris ketika saya mencari inspirasi untuk penokohan ini. Mungkin Anda boleh berkata lebay, tapi ini yang saya rasakan. Ya seperti yang saya bilang tadi, ini jadi konflik batin dan pikiran. Jadi sekarang bisa bayangkan kan, bagaimana istri teroris curhat di Rifka Annisa.

Sekilas muncul ide naïf yang mungkin bisa jadi logis. Jika demikian,ada resiko yang terlalu berat ditanggung oleh istri dan anak-anak teroris. Jika resiko ini dilihat sebagai kekerasan akibat maskulinitas terorisme, apakah akan ada jaminan keamanan dari pemerintah? Apakah akan ada kepedulian dari LSM perempuan untuk menampung mereka? Mungkin mereka juga butuh ‘rumah aman’. Mereka butuh pembelaan hukum. Mereka butuh perlindungan negara dan masyarakat. Dan bukan lantas dibenci dan dijauhi. Karena tidak semua dari perempuan dan anak-anak itu mendukung terorisme. Ada dari mereka yang justru jadi korban kekerasan atas keyakinan radikal suaminya. Mari berpikir dan berdiskusi lagi!

 

Bersambung…

Iklan

2 pemikiran pada “Ini Lho.. Ada “Istri Teroris” Curhat di Rifka Annisa #1

  1. Karena ada kata “Bersambung…” di ujung tulisan, masalahnya bukan sempat atau tidak menyambungkannya. Tapi harus dan perlu hehehehe karena sudut pandang “idelogois”-nya udah terbaca namun, kerangka estetika dalam seni pertunjukan belum terlacak.

    Kalau membacanya dalam kerangka kritisisme-obyektif, udah selesai tulisan ini. Tapi alasan dan motif menokohkan Nyonya Teroris dalam estetika seni pertunjukan dalam suara yang pribadi, belum bisa ditelusuri oleh pembaca. Kasihan pembaca, kan, masak disuruh ke Rifka Annisa atau blusukan ke UGM mencari kamu buat berbagi mengenai hal tersebut? 😀

    • kan udah dibantu mas Olsy yg komen puaaanjaaaang aje gile di grup Tonil laki-laki,, 😀 oke deh, aku ta’riset dulu yaa…semedhi dulu, nyari wangsit,,hehe. Terima ksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s