Sejauh ‘Mata’ Memandang

Karena saya hidup di Indonesia dan tinggal di Yogyakarta, saya mencoba belajar ttg apa itu keberagaman. Saya mencoba memahami bagaimana idealisme manusia satu dg lainnya. Tapi satu hal yg mencoba dihindari adalah sentimen, menggunjing, menuduh tanpa menilik fakta, dan menyalahkan satu kelompok tertentu atas ideologinya tanpa pernah berdialog dg yg bersangkutan. Jika dirasa masih aman, nyaman dan memungkinkan untuk dialog, apa salahnya dilakukan. Jika persoalan sudah diserahkan atas ego masing-masing, ya bisa dilihat sendiri konsekuensinya. Hidup itu penuh dinamika. Terkadang manusia punya beribu cara mengalihkan dan membelokan wacana. Hasilnya bisa positif, bisa pula negatif. Tidak fokus pd persoalan awal yg sebenarnya cukup sederhana jawabannya. Perlu membuka mata bhwa dunia tidak sesempit yg dibayangkan, bhwa manusia tdk sekelumit golongan yg terlihat. Ya, saya belajar banyak hal dr lingkungan sekitar. Bukan bermaksud mendikotomiskan. Tapi mengenal dan berdialog dg orang kiri hingga ke kanan, dari golongan atas hingga bawah, dari yang tua hingga yang muda, dg laki-laki dan perempuan, sangat penting untuk mendewasakan cara berpikir. Ya, sekali lagi saya bersyukur.

#bersambung…

Iklan

3 pemikiran pada “Sejauh ‘Mata’ Memandang

  1. Banyak orang menyangka bahwa, setelah kekalahan Jerman dan Jepang pada Perang Dunia II, fasisme berakhir. Namun, bila kita arahkan pandangan pada realitas sosial di Indonesia sekarang ini, fasisme itu masih ada dan mulai masuk ke sektor politik. bila masuk ke sektor politik dan tercatat secara hukum sebagai aktivitas politik, tentu sasarannya adalah kekuasaan. Kekuasaan-kekuasaan fasis inilah yang dapat dilihat sebagai akar masalah pada kasus Ahamdiyah, kaum Islam-Shiah di Madura, GKI Yasmin di Bogor, HKBP Filadelfia di Tambun, Bekasi dan politik tutup mata yang dilakukan aparat keamanan terhadap FPI, FUI dan organisasi preman berbaju arabisme lainnya.

    Fasisme di Indonesia mirip dengan fasisme Hitler dengan rezim Nazi-nya. Meski begitu, Hitler menggunakan sentimen dan subyektivitas Aria untuk mendefinisikan pihak yang diliyankan. Hitler menyerukan fasisme berdasarkan definisi-definisi tentang dirinya. Berlainan dengan fasisme, atau mau lebih aman, sebut saja potensi fasisme di Indonesia, mengidealkan sesuatu yang tidak ada pada dirinya untuk menunjukkan keunggulan dirinya dan meniadakan pihak lain dengan definisi-definisi lewat historisisme yang ngawur (Hitler pun sama ngawurnya).

    Oleh karena itu, kaum fasis tidak punya kemampuan berdialog dan gagap dalam mengorganisir dialog. Ancamannya bukan gosip tentang zionis atau salibis yang menurut kaum fasis ini harus diberangus dari muka bumi, tapi pada kemampuan menyimak dan menghormati kehidupan.

    Tapi (potensi) fasisme di Indonesia tidak saja berwajah arabik, dia pun hadir dalam bentuk ekspansi dan penetrasi pasar oleh kaum-kaum pengusung agenda liberalisasi pasar. Misalnya fasisme perusahaan terhadap buruh, fasisme sistem pendidikan bagi kaum miskin dan juga kapitalisme yang sampai kini masih bahagia dengan wajah maskulinnya.

    • Awalnya sih gak akan berkoar-koar kayak gitu, Maunya pengen mengoreksi, kata “mendikotomiskan” pada kalimat, “Bukan maksud mendikotomiskan,” adalah pengimbuhan yang keliru atas kata sifat serapan, dikotomis. Berdasarkan arti kata bahasa inggrisnya, dikotomis sudah mengandung arti “men-dikotomis-kan” sehingga bila penulisan bahasa Indonesianya menggunakan akhiran -kan “mendikotomiskan” artinya jadi, “mendikotomiskankan”. Akhiran -kan jadi duakali. Yang tidak keliru adalah, “Bukan maksud mendikotomi.”

      Hampir sama kasusnya dengan kata representasi. Adalah keliru bila menulis “merepresentasikan” seharunya, “merepresentasi.”

      Ya, itu awalnya. Tapi pas mulai ngetik, eee, malah kepikiran tentara-tentara fasis Jerman-Jepang-Itali. Jadi deh, komentarku kayak begituan hehehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s